Segala sesuatu
biasanya diawali dengan perkenalan. Tentu saja maksudku adalah ingin
memperkenalkan diri. Aku awali dengan salah satu kegiatan yang sering muncul
ketika aku sedang bosan. Menulis puisi. Tentu bukan Cuma puisi, kadang juga
cerpen, pantun, sajak, atau novel yang pasti gak bakal selesai ditulis saat itu
juga. Bukan maksud menyombong kan diri. Sebenarnya kemampuan menulis ku benar
benar payah. Puisi yang aku tulis pun tidak serupa dengan puisi. Dibeberapa
buku bahasa indonesia yang aku baca mulai dari kelas 1 smp, pengertian dari
puisi itu umum. Kebanyakan yang aku pahami pengertian tentang puisi itu adalah
salah satu karya sastra lama. Jika ada yang lama tentu ada yang baru. Dan dari
pernyataan itupun aku sudah gagal memahami apa pula pengertian dari karya
sastra. Aku tidak berbohong, aku memang benar benar payah dalam segala hal.
Rata rata puisi yang menurut masyarakat disekitarku itu bagus ya karya Chairil
Anwar. Aku sendiri tidak mengelak jika karya Chairil Anwar benar benar bagus.
Semua penulis puisi adalah orang yang keren. Bukan karena aku membahas Chairil
Anwar maka aku mengidolakannya. Bukan, aku tidak punya idola. Kira kira seperti
itulah keadaanku sampai saat ini. Semua orang terlalu keren untuk kujadikan
idola. Dan aku terlalu takut kehilangan jati diriku ketika mengidolakan
seseorang. Alasannya sederhana, aku orang plin plan. Seperti air, aku
menganggap diriku agak mudah menyesuaikan dengan orang orang disekitarku.
Sesuai wadah begitulah artinya. Ketika membaca puisi karya Chairil Anwar,
sejenak puisiku akan terpengaruh oleh kata katanya, begitu pula ketika aku
membaca puisi karya Pablo Neruda. Aku sangat sadar, karena itulah aku merasa jika
hal itu diteruskan, kreativitasku yang sudah setipis rambut mungkin akan
hilang. Dan aku akan jadi seorang plagiat. Jika kalian membaca salah satu
puisiku, aku yakin kalian akan berkomentar : “wah, biasa sekali, bahkan anak tk
bisa membuat lebih baik darinya.” Sesuatu seperti itulah. Tapi tetap saja, aku
bangga bisa menulisnya. Kau tau aku tetap bersyukur bisa menggunakan otakku
untuk berputar mencari katakata. Meski hasilnya mungkin gak ada harganya. Ini salah satu hasil puisi ku. Bukan yang
terbaik di dunia, tapi adalah usaha terbaikku yang pernah ada.
AKAR KESEDIHAN
Akar itu kembali membalut
Mengikat dan memenjarakan
Meski telah berusaha
Rasanya percuma
Menjadi usaha yang sia sia
Aku tlah
mengejarmu
Berusaha
semampuku
Agar menjadi
sama denganmu
Tapi aku tak
pernah mampu
Ntuk berjalan
brdua disampingmu
Rasa ini tak kan abadi
Aku tau itu
Mungkin akan mati hari ini
Atau nanti
Toh itu sama saja
Hati ini tak kan berarti
Kembali
Ketika ku
mencoba untuk bangkit
Menghilangkan
semua kenangan tentangmu
Kau kembali
Merobek hati
Membawa perih