Jumat, 30 Januari 2015

Awali dengan puisi



Segala sesuatu biasanya diawali dengan perkenalan. Tentu saja maksudku adalah ingin memperkenalkan diri. Aku awali dengan salah satu kegiatan yang sering muncul ketika aku sedang bosan. Menulis puisi. Tentu bukan Cuma puisi, kadang juga cerpen, pantun, sajak, atau novel yang pasti gak bakal selesai ditulis saat itu juga. Bukan maksud menyombong kan diri. Sebenarnya kemampuan menulis ku benar benar payah. Puisi yang aku tulis pun tidak serupa dengan puisi. Dibeberapa buku bahasa indonesia yang aku baca mulai dari kelas 1 smp, pengertian dari puisi itu umum. Kebanyakan yang aku pahami pengertian tentang puisi itu adalah salah satu karya sastra lama. Jika ada yang lama tentu ada yang baru. Dan dari pernyataan itupun aku sudah gagal memahami apa pula pengertian dari karya sastra. Aku tidak berbohong, aku memang benar benar payah dalam segala hal. Rata rata puisi yang menurut masyarakat disekitarku itu bagus ya karya Chairil Anwar. Aku sendiri tidak mengelak jika karya Chairil Anwar benar benar bagus. Semua penulis puisi adalah orang yang keren. Bukan karena aku membahas Chairil Anwar maka aku mengidolakannya. Bukan, aku tidak punya idola. Kira kira seperti itulah keadaanku sampai saat ini. Semua orang terlalu keren untuk kujadikan idola. Dan aku terlalu takut kehilangan jati diriku ketika mengidolakan seseorang. Alasannya sederhana, aku orang plin plan. Seperti air, aku menganggap diriku agak mudah menyesuaikan dengan orang orang disekitarku. Sesuai wadah begitulah artinya. Ketika membaca puisi karya Chairil Anwar, sejenak puisiku akan terpengaruh oleh kata katanya, begitu pula ketika aku membaca puisi karya Pablo Neruda. Aku sangat sadar, karena itulah aku merasa jika hal itu diteruskan, kreativitasku yang sudah setipis rambut mungkin akan hilang. Dan aku akan jadi seorang plagiat. Jika kalian membaca salah satu puisiku, aku yakin kalian akan berkomentar : “wah, biasa sekali, bahkan anak tk bisa membuat lebih baik darinya.” Sesuatu seperti itulah. Tapi tetap saja, aku bangga bisa menulisnya. Kau tau aku tetap bersyukur bisa menggunakan otakku untuk berputar mencari katakata. Meski hasilnya mungkin gak ada harganya.  Ini salah satu hasil puisi ku. Bukan yang terbaik di dunia, tapi adalah usaha terbaikku yang pernah ada.
AKAR KESEDIHAN
Akar itu kembali membalut
Mengikat dan memenjarakan
Meski telah berusaha
Rasanya percuma
Menjadi usaha yang sia sia
          Aku tlah mengejarmu
          Berusaha semampuku
          Agar menjadi sama denganmu
          Tapi aku tak pernah mampu
          Ntuk berjalan brdua disampingmu
Rasa ini tak kan abadi
Aku tau itu
Mungkin akan mati hari ini
Atau nanti
Toh itu sama saja
Hati ini tak kan berarti
          Kembali
          Ketika ku mencoba untuk bangkit
          Menghilangkan semua kenangan  tentangmu
          Kau kembali
          Merobek hati

          Membawa perih